Rabu, 18 April 2018

CERPEN HORROR : Bunyi yang Menakutkan

Hasil gambar untuk Bunyi yang Menakutkan
Rachel sedang terbangun dari mimpinya saat rerintik hujan beradu dengan genting rumahnya. Dia hampir selalu terbangun oleh hujan. Kamarnya berada di lantai paling atas, lantai dua. Itu membuatnya gelisah dan membujuk ibunya agar pindah kamar ke lantai bawah.
“Lantai satu sudah penuh, Rach. Tapi jika kau memaksa, kau harus tidur bersama adik-adikmu,” jawab ibunya pada saat Rachel meminta tukar kamar.
Rachel tidak bisa tidur pada saat musim hujan. Bunyi rintik-rintik hujan itu tidak lagi seindah nyanyian anak-anak yang menghibur. Bunyi-bunyi itu begitu mengganggu dan membuat bulu romanya menegang. Tiba-tiba saja jika bunyi hujan itu terdengar, dia selalu merasa waspada dan mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Tidak ada yang dia cari. Dia hanya waspada karena ketakutan yang berlebih. Itu tidak seperti anti terhadap kesukaan pada hujan. Itu lebih seperti takut pada bunyi hujan yang begitu deras dan tiba-tiba.
Dalam keadaan terjaga ini, Rachel masih waspada dan awas. Kini terduduk, merapatkan diri dengan tembok di belakangnya, menyelimuti diri sampai menutupi seluruh badan dan menyisakan kepalanya. Sekarang dia lebih tampak seram diterpa cahaya malam yang masuk lewat jendela. Dia lupa, bahwa tirai jendelanya belum ditutup sebelum dia benar-benar tertidur lelap. Pada saat itu dia merasa angin sore begitu sejuk membelainya. Suasana yang baik untuk belajar, sehingga dia tetap membuka jendela. Setelah mulai larut, dia masih memandangi langit gelap gemerlapan bintang; dan bulan yang tidak bisa terlewatkan setelah lelah belajar. Hanya saja angin terlalu menusuk kulitnya, hingga dia pun menutup jendela namun tetap membiarkan tirainya terbuka dan memandangi cahaya-cahaya yang bertaburan di langit malam di tempat tidur. Setelah itu tanpa sadar dia sudah mengarungi dunia mimpi.
Lalu setelah berjam-jam tertidur hujan mulai turun deras.
Tampaknya Rachel begitu menyesali kalau dirinya benar-benar pelupa. Kali ini dia melupakan tirai, dan kemudian entah apa lagi yang akan terlupakan, tapi kelupaan yang paling disesalinya adalah saat ini, bahwa tidak menutup tirai saat malam dan hujan deras berjatuhan di atas genting terasa mencekam dan menyulitkannya untuk tidur. Rasanya dia sudah terbiasa dengan gelap malam, tapi untuk terbiasa dengan suara hujan yang deras, apalagi tepat di atas genting, dia selalu ingin menyenderkan diri ke tembok dan mewaspadai sekitar. Entah apa yang diwaspadai, tapi terkadang dia pun merasa selalu ada seseorang yang berdiri di belakangnya, seperti akan membekamnya lalu menggorok lehernya.
Terkadang juga dia merasa kalau sesuatu yang mengoles lehernya dengan lembut sedang berada di belakangnya (dan setelah melihat ke belakang tidak ada apa-apa dan berpikir bahwa itu angin belaka). Itulah alasan Rachel jika terdengar hujan deras dengan suara yang keras muncul dengan tiba-tiba, dia tidak akan banyak pikir untuk tidak membiarkan punggungnya terbuka tanpa bersandar ke tembok. Selalu saja begitu tanpa melakukan hal lain. Kemudian, jika dirinya jauh dari tembok untuk disandari, dia akan meloncat ke arah Ibu, atau adik-adiknya, atau orang yang sedang berada dekat dengannya. Lalu tubuhnya gemetar seperti demam melandanya. Dan kadang-kadang hal itu menjadi guyonan bagi adik-adiknya, terutama adik lelakinya. Tapi hal itu justru membuat Rachel tampak seperti anak manja yang butuh perhatian. Butuh untuk dilirik sedikit saja agar dia tidak benar-benar merasa berbeda.
Rachel masih dalam keadaan terpuruk. Hanya selimut yang benar-benar menemaninya. Tidak begitu hangat tapi begitu meyakinkan Rachel bahwa tidak ada lagi benda yang bisa dipeluknya hangat. Dia begitu aneh dengan kegelapan dan gemuruh hujan yang deras. Terasa dicekik dan sulit bernafas. Gemeletuk gigi tampak jelas terdengar meski kau berdiri di ujung kasur. Suara giginya itu hampir mirip orang kurus yang sudah berenang di air yang suhunya 00. Mungkin terdengar mengada-ngada, tapi bagaimana saat dihadapi oleh Rachel seorang remaja jelita dan agak manja itu terasa seperti akan membunuhnya?
Sesuatu telah membelainya dari belakang, yang dia tahu itu bukanlah angin biasa. Angin hanya tiupan Tuhan untuk menggerakkan awan dan tumbuhan, juga menyenangkan anak-anak karena layang-layangnya terbang dengan baik. Hanya saja angin ini seperti bukan buatan Tuhan. Dalam kegelapan dan gemuruh hujan deras ini, angin seperti tangan dengan perilaku terlalu lembut, sehingga membuat bulu romanya menegang. Lantas pikiran Rachel malam ini pun kembali mengontrol dirinya untuk waspada dan melihat ke arah penjuru angin. Ada sesuatu yang di dekatnya, selain selimut yang digenggam erat. Ada angin yang terlalu lembut membelai leher dan kepalanya. Ada aura yang tidak membuatnya nyaman. Dan seperti ada, seperti....
Petir menggelegar di arah pukul 10. Dia melihat kilat itu penuh takut, meringkuk ketika petir itu begitu memancarkan sinar yang sekejap-sekejap di antara riuhnya angin dan hujan yang turut meramaikan alam. Dengan cahaya kilat itu, Rachel dapat melihat dengan jelas awan gelap yang semula samar-samar. Tapi di balik semua pemandangan itu, Rachel seorang diri sedang menghadapi ketakutan. Membuatnya was-was dihadapi bunyi hujan yang ramai. Di balik gelap malam dan kamar kecilnya ini.
Sejenak dia berpikir untuk menyalakan lampu secepat mungkin. Jarak dari kasur ke saklar hanya sekitar 6 meter. Tapi betapa pun dekatnya jarak itu, Rachel terlalu takut untuk melakukannya. Selangkah saja dia meninggalkan kasur, dia merasa akan ada sesuatu terjadi padanya. Dia terlalu takut pada bunyi hujan. Hampir terlalu takut pada segala hal. Seringkali pikirannya berusaha untuk curiga. Merasa sekitarnya telah membahayakan dirinya.
Kali ini tampaknya akan ada perilaku konyol yang dilakukan oleh Rachel. Wajahnya kini menatap saklar yang berada di belakang pintu jika pintu itu dibuka. Pandangannya beredar ke sekeliling dengan cepat. Di saat perasaannya mengatakan aman, dia tersentak dari kasurnya untuk mencapai saklar itu. Namun baru sedikit dia melangkah ke luar kasur Rachel tiba-tiba membatu, tidak dapat bergerak dan tubuhnya gemetar. Suara hujan masih dalam deras yang sama. Kilat menyambar lagi hampir dari tempat yang sama. Rachel pikir bukan dari suara hujan itu yang kini membuatnya ketakutan. Ada sesuatu di belakangnya yang membuat perasaannya tiba-tiba mengurungkan niat menuju saklar. Sangat berat bagi Rachel untuk melangkah sedikit saja saat ini setelah dirinya benar-benar merasa takut pada hal lain.
Masih dalam ketakutan, Rachel menatap saklar di tempat sambil merasakan kehadiran sesuatu di belakangnya. Dia tidak berani menengok ke belakang meski satu detik saja. Apalagi membayangkan sesosok makhluk yang ada di belakangnya. Hanya saja, betapa pun Rachel mengenyahkan bayangan menakutkan itu, pikiran Rachel tetap tidak bisa diam membayangkan makhluk di belakangnya. Dia tidak benar-benar tahu sesosok apa yang ada di belakangnya. Dia hanya bisa merasakan kehadiran itu. Dia berusaha untuk tidak berpikir sugestif tapi hal itu tidak dapat dilakukannya. Dia membayangkan makhluk itu gelap dan dengan tubuh yang mengerikan. Wajah yang berbeda dari manusia normal dan siap menerkamnya. Tangan yang panjang dan dapat merangkulnya ke dalam dunia yang lebih gelap dari kamarnya.
Rachel merasakan makhluk itu mendekatinya. Perlahan-lahan, namun tujuannya itu sangat pasti. Jantung Rachel berdegup keras. Hampir seluruh tubuhnya gemetar hebat memikirkan dirinya ingin memastikan makhluk itu dengan matanya sendiri. Rachel mencoba mengatur nafas sebisa mungkin, tapi nafasnya terburu oleh ketakutan yang melandanya. Matanya terpejam takkuasa menyaksikan sosok yang masih dalam bayangannya. Mulutnya merapat, menahan kengerian yang datang mendekat. Pikirannya masih tertuju pada sosok itu. Tertuju pada dirinya yang dibuat penasaran akan wujudnya. Hingga pada akhirnya tekad Rachel bulat memutuskan untuk berbalik ke belakang melihatnya dengan putus asa, dan ketika dilakukannya hal itu semakin membuatnya takut dan membingungkan, karena tidak ada apa pun di belakangnya. Rachel kemudian berbalik ke segala penjuru dengan cepat, berputar ke kanan-kiri dengan waspada, dengan curiga, bahwa ada sesuatu di sekitarnya.
Gelagar petir nun jauh di sana terlihat jelas dari sudut jendela tanpa tirai. Gemuruh hujan kian lebat dan mengobarkan keriuhan. Setiap angin yang terhembus membawa setiap pepohonan mengikuti arahnya. Desiran angin membawa petaka bagi Rachel dalam setiap tarikan nafasnya. Dengan cepat Rachel bersandar ke tembok di samping kasurnya, duduk dan merangkul kedua kakinya yang melipat. Rachel tertunduk di atas tumitnya yang merapat itu dan taklama dia mulai menangis. Menangis karena perasaannya mengatakan ada sesuatu yang berdiri di hadapannya. Dia berada tepat di depannya dan Rachel tidak bisa berbuat apa-apa kecuali tertunduk dan menangis. Dia yakin perasaannya tidak dapat mengelabuinya. Makhluk itu mengelus-ngelus tengkuk Rachel. Rasanya dingin tapi menakutkan. Membuat semua orang tidak berharap merasakannya.
Rachel masih pada posisi yang sama. Kali ini dia melolong hebat dan hampir tak terkendali. Lolongan yang memekikkan orang-orang. Betapa pun keras lolongan itu, tampak tidak ada seseorang yang bangun untuk menjemput Rachel dari ketakutannya itu. Dengan berjalannya malam, Rachel hanya bisa menunduk dan ketakutan.
Sampai pada pagi yang cerah tiba, Rachel masih menangis tapi dengan suara yang pelan. Dia duduk dalam posisi yang sama sambil tertunduk dan merangkul kaki. Saat ibunya mengetuk pintu dan membukanya karena kecemasan seorang ibu tidak mendapatkan jawaban dari seorang anak, di sekitar Rachel berhamburan rambut-rambut berwarna pirang yang dimiliki oleh Rachel. Kepala Rachel dilumuri darah yang hampir menutupi warna rambutnya yang kini tinggal sedikit saja menempel di kepalanya. Darah itu mengalir ke dahi, ke pipi, ke hidung, ke mata, ke leher sebelum sampai mencapai ubin. Darah yang keluar akibat jambakan rambut yang begitu keras dan banyak sekaligus. Ibu Rachel melihat anaknya ketakutan sambil menutup mulutnya akibat kaget. Tidak dapat membayangkan bahwa anaknya telah melakukan hal kejam pada dirinya sendiri.
Hal yang bisa ibunya lakukan adalah menangis sambil menahan Rachel untuk tidak melakukan jambakan pada rambutnya sendiri. Dalam pelukan ibunya yang penuh penyesalan itu, Rachel masih gemetar dan ketakutan. Pelukan yang lebih lembut dari sutra tidak juga meredakannya. Pelukan sebagai tanda ibunya tidak akan meninggalkannya lagi di saat hujan pada malam hari. Pelukan yang seharusnya memberi kehangatan di saat dia benar-benar gemetar dilanda ketakutan. Tidak ada penyesalan yang dapat diubah. Ibunya berkabung, sedangkan Rachel tidak sadarkan diri. Dan hal itu membuat Rachel tidak dapat merasakan kehangatan dari pelukan seorang ibu.
Disqus Comments